International Politik

Trump Incar Greenland, NATO Waspada, Arktik Diperebutkan

Senator Ruben Gallego Ajukan Resolusi Cegah Ambisi Militer Trump

Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kembali mencuat setelah Senator Amerika Serikat Ruben Gallego menggulirkan resolusi untuk mencegah Presiden Donald Trump menggunakan kekuatan militer terhadap Greenland. Gallego, senator dari Partai Demokrat, menilai pernyataan Trump mengenai pentingnya Greenland bukan sekadar retorika, tetapi indikasi serius arah kebijakan luar negeri AS ke depan.

Lewat unggahan di platform X pada Selasa, 13 Januari 2026, Gallego menegaskan bahwa langkah pencegahan harus dilakukan sebelum Amerika Serikat terjerumus dalam konflik baru yang berpotensi global. “Trump memberi tahu kita dengan jelas apa yang ingin ia lakukan. Kita harus menghentikannya sebelum dia menyerang negara lain secara sepihak,” ujarnya dikutip dari CNBC.

Baca Juga : “Investor Laporkan Trader Usai Rugi Rp 3 M di Grup Sinyal

Fokus Resolusi: Blokir Penggunaan Dana Militer untuk Greenland

Dalam pernyataannya, Gallego menambahkan bahwa resolusi tersebut secara spesifik bertujuan untuk mencegah penggunaan dana negara bagi aksi militer ke Greenland. Ia menyerukan kepada Kongres agar mengambil langkah tegas untuk menolak segala bentuk ekspansi militer sepihak di wilayah berdaulat.

“Tidak ada lagi perang abadi,” tegas Gallego saat memperkenalkan amandemen terhadap RUU Alokasi Anggaran Pertahanan Senat yang diajukan pada Senin. Resolusi tersebut menjadi reaksi cepat terhadap pernyataan Donald Trump akhir pekan lalu yang menempatkan Greenland dalam peta prioritas strategis pertahanan Amerika.

Trump Anggap Greenland Aset Penting Keamanan Nasional

Dalam wawancara eksklusif dengan The Atlantic, Trump menyebut Greenland sebagai wilayah krusial dari sudut pandang keamanan nasional. Menurutnya, lokasi strategis Greenland di kawasan Arktik menjadi kunci dalam mengimbangi pengaruh Rusia dan Tiongkok yang terus tumbuh di wilayah tersebut.

“Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” ucap Trump. Ia bahkan menyatakan bahwa Denmark, sebagai negara yang menaungi Greenland secara administratif, tidak mampu memberikan jaminan keamanan yang optimal terhadap kawasan itu.

Pernyataan ini mengulang kembali ambisi Trump pada masa jabatan sebelumnya di mana ia pernah secara terbuka menyampaikan keinginan untuk membeli Greenland dari Denmark pada 2019. Meski sempat dianggap lelucon diplomatik, kini wacana tersebut kembali mengemuka dengan nuansa yang lebih serius.

Ancaman Militer Timbulkan Reaksi Keras dari NATO dan Denmark

Respon internasional terhadap pernyataan Trump dan usulan Gallego tergolong cepat dan tegas. Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt, menyatakan telah meminta dialog dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sejak 2025, namun belum mendapat tanggapan konkret hingga kini.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, juga angkat bicara dan menolak keras kemungkinan pembelian atau tekanan militer terhadap Greenland. Ia menegaskan bahwa Greenland bukan untuk dijual, dan pengelolaan wilayah Arktik harus didasarkan pada kerja sama internasional, bukan dominasi kekuatan.

“Greenland bukan untuk diperjualbelikan,” tegas Frederiksen dalam pernyataan resmi. Ia juga mengingatkan bahwa Denmark dan Greenland adalah bagian dari NATO dan memiliki perjanjian pertahanan aktif dengan Amerika Serikat tanpa perlu adanya intimidasi militer.

Senator AS Peringatkan Dampak terhadap Integritas NATO

Ketegangan ini tidak hanya berpotensi merusak hubungan bilateral antara AS dan Denmark, tetapi juga menimbulkan keretakan dalam aliansi NATO. Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat menyatakan bahwa aksi sepihak AS terhadap Greenland akan mengancam kepercayaan antaranggota NATO yang selama ini menjadi fondasi stabilitas keamanan Eropa dan Atlantik Utara.

“Jika Amerika Serikat menyerang wilayah sekutu, kepercayaan dalam NATO akan terguncang,” kata Murphy. Pandangan ini menyoroti bahwa implikasi dari kebijakan Trump tidak hanya berdampak regional, tetapi juga dapat merusak tatanan aliansi global.

Kekayaan Mineral Greenland Picu Minat Global

Salah satu alasan utama di balik memanasnya isu Greenland adalah potensi kekayaan sumber daya alam di wilayah tersebut. Greenland memiliki cadangan besar rare earth minerals atau mineral tanah jarang, yang sangat penting dalam pembuatan komponen teknologi seperti baterai kendaraan listrik, turbin angin, dan perangkat militer.

Menurut data dari United States Geological Survey (USGS), Greenland diperkirakan menyimpan lebih dari 38,5 juta ton cadangan mineral strategis seperti neodimium, disprosium, dan terbium. Sumber daya ini menjadi incaran negara-negara besar yang ingin memimpin industri teknologi masa depan dan mengurangi ketergantungan terhadap suplai dari Tiongkok.

Ketidakpastian geopolitik di Greenland dapat mengguncang rantai pasok global, memengaruhi harga logam langka, serta memicu ketegangan ekonomi antara kekuatan Barat dan Timur.

Gedung Putih: Perlindungan, Bukan Invasi

Seorang juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa tujuan Presiden Trump bukan untuk menciptakan konflik, melainkan menjamin keamanan kawasan Arktik yang kini rentan terhadap infiltrasi kekuatan asing. Menurutnya, kehadiran militer AS di Greenland justru akan membawa perlindungan bagi warga lokal.

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak banyak meredam kekhawatiran komunitas internasional. Banyak pengamat melihat bahwa retorika Trump cenderung mengedepankan kepentingan domestik Amerika tanpa mempertimbangkan stabilitas global.

Friksi Internal Partai Republik soal Greenland

Perselisihan mengenai Greenland juga memicu perbedaan pandangan di internal Partai Republik. Senator Lindsey Graham mendukung kehadiran AS di Arktik, namun menekankan bahwa bentuknya harus dalam kerangka kerja sama, bukan dominasi militer.

Menurut Graham, upaya meningkatkan kehadiran Amerika di Greenland perlu dilakukan lewat perjanjian yang menghormati kedaulatan Denmark dan Greenland, serta mempertimbangkan keberlangsungan diplomasi jangka panjang.

Pandangan Strategis: Arktik Jadi Panggung Persaingan Global

Arktik kini menjadi kawasan strategis baru dalam percaturan global. Selain potensi ekonomi dari jalur pelayaran baru yang terbuka akibat pencairan es, wilayah ini menjadi rebutan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok.

Rusia diketahui telah memperkuat infrastruktur militernya di kawasan Kutub Utara, sementara Tiongkok menyatakan diri sebagai “negara dekat Arktik” dan menanamkan investasi besar dalam proyek pertambangan di Greenland.

Amerika Serikat, lewat retorika Trump, tampak ingin memastikan posisinya tidak tertinggal. Namun pendekatan yang diwarnai ancaman militer berpotensi menimbulkan eskalasi konflik dan menurunkan kredibilitas AS di mata sekutunya.

Penutup: Diplomasi Diperlukan, Bukan Provokasi

Kontroversi tentang Greenland menjadi pengingat penting bahwa kebijakan luar negeri harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. Alih-alih retorika agresif, dialog dan kerja sama internasional seharusnya menjadi fondasi bagi pengelolaan Arktik secara damai dan berkelanjutan.

Ketika Greenland menjadi sorotan karena cadangan mineralnya yang luar biasa, dunia dihadapkan pada pilihan: memperebutkannya dengan kekuatan atau merundingkannya dengan keadilan. Pilihan ini akan menentukan arah stabilitas kawasan Arktik dan masa depan geopolitik global.

Baca Juga : “Trump Incar Greenland! Ambisi Bendung Dominasi Rusia-China di Kutub Utara, Kecewa ke Putin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *