Harga Minyak Melemah Saat Risiko Selat Hormuz Mereda
afastbuy.com – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Jumat setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda pemulihan. Semakin banyak kapal tanker yang berhasil melintasi jalur strategis tersebut, sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global ikut mereda.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 4,34 persen ke level US$71,99 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat untuk kontrak Agustus melemah 3,74 persen menjadi US$69,23 per barel.
Penurunan ini membuat WTI kembali berada di bawah US$70 per barel untuk pertama kalinya sejak 27 Februari, atau sehari sebelum perang Iran pecah. Kondisi tersebut menunjukkan pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.
Pasar Melihat Risiko Pasokan Mulai Berkurang
Tekanan terhadap harga minyak terjadi karena pelaku pasar menilai ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai menurun. Investor juga mencermati perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat menurunkan risiko terhadap rantai pasok energi.
Namun, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya hilang. Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Iran berada di balik serangan terhadap kapal kargo di dekat pantai Oman, tidak jauh dari kawasan Selat Hormuz.
Laporan The Wall Street Journal menyebut kapal tersebut berbendera Singapura. Sementara United Kingdom Maritime Trade Operations atau UKMTO menyatakan insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun pencemaran lingkungan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menuduh Iran melanggar gencatan senjata melalui serangan drone di kawasan tersebut. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut kapal yang diserang masih dapat melanjutkan pelayaran meski mengalami kerusakan.
Baca Juga : “Kemenkeu Pastikan Intervensi Pasar Obligasi Berlanjut“
Ketidakpastian Geopolitik Masih Membayangi Harga Minyak
Presiden Nations Indexes, Scott Nations, menilai pasar terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa risiko telah mereda. Menurutnya, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, terutama terkait implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia mengingatkan bahwa Iran masih memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global karena posisinya yang dekat dengan Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu rute penting perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan dapat memicu gejolak harga energi.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional atau IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan rencana evakuasi kapal untuk sementara dihentikan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan jaminan keamanan tetap tersedia bagi kapal-kapal yang masih berada di kawasan tersebut.
OPEC dan Kuota Produksi Jadi Faktor Tambahan
Selain konflik geopolitik, pasar minyak juga mencermati dinamika internal OPEC. Irak dilaporkan meminta kenaikan kuota produksi kepada organisasi tersebut.
Pemerintah Irak bahkan disebut membuka peluang keluar dari OPEC apabila permintaan itu tidak dipenuhi. Jika terjadi, langkah tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak global dalam beberapa bulan mendatang.
Harga minyak kini bergerak di tengah dua sentimen besar. Di satu sisi, meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menekan harga. Di sisi lain, risiko geopolitik dan dinamika produksi OPEC masih dapat kembali memicu volatilitas pasar energi global.
Baca Juga : “Korban PT Dana Syariah Minta Bareskrim Pulihkan Hak“