afastbuy, Jakarta – Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno menekankan pentingnya revitalisasi fasilitas digital di Politeknik STIA LAN Bandung. Langkah ini bertujuan mencetak aparatur sipil negara (ASN) yang adaptif serta memiliki literasi teknologi tinggi. Menurutnya, upaya ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah percepatan transformasi digital di sektor pemerintahan.
baca juga: Len Pamerkan Sistem Kendali Kapal Perang ke Kemenhan
Politeknik STIA LAN Bandung: Kawah Candradimuka ASN
Politeknik STIA LAN Bandung merupakan lembaga pendidikan kedinasan tertua di Indonesia, berdiri sejak 1960. Selama puluhan tahun, institusi ini dikenal sebagai “kawah candradimuka” yang membentuk ASN profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan birokrasi modern.
Selain itu, Romy menekankan bahwa tantangan digitalisasi semakin kompleks. ASN kini tidak hanya harus memahami kebijakan publik, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan layanan publik. Oleh karena itu, Politeknik STIA LAN Bandung perlu menjadi pusat inovasi administrasi publik berbasis teknologi.
Urgensi Literasi Digital bagi ASN
Menurut Romy, literasi digital menjadi fondasi utama birokrasi modern. Selain itu, transformasi digital pemerintah melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menuntut ASN memahami sistem digital, manajemen data, dan pelayanan publik berbasis teknologi.
Dengan fasilitas digital modern, mahasiswa dapat belajar secara langsung bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan pemerintahan. Hal ini sekaligus menyiapkan mereka menghadapi dinamika pekerjaan nyata di lapangan.
Pengembangan Kurikulum Berbasis Tracer Study
Selain fasilitas, DPR Romy mendorong pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan nyata. Oleh karena itu, ia menyarankan Politeknik STIA LAN Bandung mengembangkan sistem co-creation kurikulum yang memanfaatkan data tracer study secara real-time. Dengan cara ini, kampus dapat menyesuaikan materi perkuliahan dengan kebutuhan instansi pemerintah dan pasar kerja.
Targetnya, 90 persen lulusan terserap dalam waktu kurang dari enam bulan. Selain itu, Romy mendorong peningkatan kontribusi riset kampus bagi DPR dan pemerintah, minimal 30 kali per tahun. Hal ini memastikan Politeknik STIA LAN Bandung menjadi pusat kajian kebijakan publik yang produktif dan relevan.
Laboratorium Digital Berbasis AI dan Big Data
Untuk memperkuat ekosistem digital, Romy mengusulkan pembangunan laboratorium digital lengkap dengan teknologi mutakhir, seperti kecerdasan buatan dan big data. Selain itu, fasilitas ini akan menjadi pusat pembelajaran dan riset bagi mahasiswa dan dosen.
Pendanaan fasilitas ini diusulkan melalui optimalisasi PNBP serta dukungan anggaran dari kementerian pendidikan tinggi. Dengan laboratorium modern, mahasiswa dapat mempelajari analisis data, kecerdasan buatan untuk pelayanan publik, serta sistem digital administrasi pemerintahan.
Lebih jauh lagi, Romy menargetkan 80 persen dosen tersertifikasi kompetensi digital dalam dua tahun. Dengan begitu, proses pembelajaran akan lebih efektif dan relevan dengan transformasi digital birokrasi.
Integritas ASN Melalui Kurikulum Anti-Korupsi
Romy menegaskan bahwa integritas ASN tetap menjadi fokus utama. Selain itu, ia mendorong pengembangan modul anti-korupsi, whistleblowing, dan prinsip netralitas politik. Materi ini selaras dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, yang menekankan profesionalisme dan tanggung jawab ASN.
Dengan kombinasi kemampuan digital dan integritas, lulusan Politeknik STIA LAN Bandung diharapkan menjadi ASN profesional, dipercaya masyarakat, dan siap menghadapi era birokrasi modern.
Perluasan Kerja Sama Nasional dan Internasional
Selain itu, Romy menekankan pentingnya memperluas kerja sama dengan lembaga nasional maupun internasional. Dengan demikian, Politeknik STIA LAN Bandung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan membuka peluang pertukaran pengetahuan.
Targetnya, institusi ini memiliki minimal 50 MoU aktif dan 15 mitra internasional pada 2029. Kerja sama internasional akan memberi akses terhadap praktik terbaik administrasi publik, inovasi pelayanan pemerintah, dan pemanfaatan teknologi digital. Mahasiswa pun akan memperoleh perspektif global tentang birokrasi modern.
Roadmap Transformasi Digital 2026–2029
Romy menyarankan penyusunan roadmap 2026–2029, mencakup SPBE internal, penerapan blended learning hingga 70 persen, dan integrasi AI dalam seluruh program studi. Dengan demikian, mahasiswa dapat mengakses materi kuliah secara fleksibel sekaligus belajar dengan simulasi digital yang mendekati kondisi kerja nyata.
Pendekatan ini menciptakan ekosistem pendidikan fleksibel, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan pemerintah digital. Mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi teknis dan soft skills yang sesuai tuntutan ASN modern.
Komitmen Memperjuangkan Anggaran Revitalisasi
Romy menegaskan komitmen memperjuangkan alokasi anggaran khusus untuk revitalisasi fasilitas digital. Selain itu, ia menilai investasi pendidikan kedinasan berdampak langsung terhadap kualitas birokrasi dan pelayanan publik.
“Revitalisasi fasilitas digital di kawah candradimuka ini adalah investasi langsung untuk birokrasi yang efektif, adaptif, dan mampu melayani rakyat dengan lebih baik,” ujarnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Politeknik STIA LAN Bandung diharapkan menjadi pusat kajian kebijakan publik kelas dunia, sekaligus melahirkan ASN profesional, inovatif, dan siap menghadapi tantangan era digital.
baca juga: DPR Ajak Pers Bangun Narasi HAM di Indonesia