Jakarta (afastbuy) – Muktamar NU 2026 dipandang sebagai momentum strategis yang akan menentukan arah masa depan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh muda NU, Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menilai forum ini tidak sekadar agenda rutin organisasi, tetapi ruang penting untuk memastikan keberlanjutan nilai keilmuan, moral, dan independensi NU dalam kehidupan berbangsa.
Ia menyampaikan pandangannya di Jakarta melalui keterangan tertulis. Ia menegaskan bahwa NU harus kembali pada akar pendiriannya yang berbasis pada tradisi ulama. Menurutnya, pemilihan pemimpin dalam muktamar harus berlandaskan kapasitas keilmuan dan akhlak, bukan sekadar pertimbangan politik atau kepentingan kekuasaan.
Gus Lilur menilai NU memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga arah moral umat. Karena itu, setiap proses suksesi kepemimpinan harus mencerminkan nilai dasar organisasi yang telah dibangun sejak awal berdirinya NU oleh para ulama.
baca juga: Strategi Pramono Anung Atasi Masalah Transportasi Jakarta
Pemurnian Organisasi dan Peneguhan Nilai Keilmuan
Menurut Gus Lilur, Muktamar NU 2026 harus menjadi momentum pemurnian organisasi. Ia mendorong peserta muktamar untuk memiliki keberanian moral dalam memilih pemimpin yang benar-benar berangkat dari tradisi keilmuan.
Ia menegaskan bahwa NU bukan organisasi politik praktis, melainkan organisasi keagamaan yang memiliki tanggung jawab moral terhadap umat. Oleh karena itu, proses pemilihan pemimpin harus menghindari dominasi kepentingan eksternal yang dapat menggeser arah organisasi.
Dalam pandangannya, pemimpin NU harus mampu menjaga keseimbangan antara keilmuan, kebijaksanaan sosial, dan kemampuan merespons tantangan zaman. Kombinasi tersebut dianggap penting agar NU tetap relevan di tengah perubahan sosial yang cepat.
Kekayaan Kader dan Tantangan Seleksi Kepemimpinan
Gus Lilur juga menyoroti bahwa NU memiliki banyak figur berkualitas dari berbagai latar belakang keilmuan. Ia menyebut sejumlah nama yang dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan, seperti Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, dan Bahauddin Nursalim.
Menurutnya, keberagaman tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki cadangan kepemimpinan yang kuat. Namun, ia mengingatkan agar proses seleksi tetap mengedepankan prinsip objektivitas dan tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek.
Ia menilai bahwa kualitas pemimpin NU akan sangat menentukan arah organisasi dalam menghadapi tantangan global. Karena itu, muktamar harus menjadi ruang seleksi yang sehat dan berbasis pada rekam jejak keilmuan.
Independensi NU dalam Lanskap Sosial dan Politik
Dalam pandangannya, Muktamar NU 2026 juga menjadi ujian bagi independensi NU. Ia menegaskan bahwa NU harus tetap berdiri di atas semua golongan dan tidak boleh terseret dalam kepentingan politik tertentu.
Ia menilai independensi tersebut penting agar NU tetap berfungsi sebagai penyejuk umat dan penjaga keseimbangan sosial. Dengan posisi tersebut, NU dapat terus memainkan peran strategis dalam menjaga harmoni kehidupan beragama di Indonesia.
Gus Lilur juga menekankan bahwa NU harus menghindari polarisasi internal yang dapat melemahkan organisasi. Ia mendorong agar seluruh elemen NU menjaga persatuan dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Penguatan Ekosistem Intelektual dan Tradisi Pesantren
Selain aspek kepemimpinan, Gus Lilur menilai Muktamar NU 2026 harus kembali menitikberatkan pada penguatan ekosistem intelektual NU. Ia menyoroti pentingnya pengembangan pesantren, forum bahtsul masail, dan kajian keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada jaringan keilmuan yang tersebar di pesantren. Tradisi ini harus terus diperkuat agar NU tetap menjadi pusat rujukan pemikiran Islam moderat di Indonesia.
Ia juga mendorong agar NU lebih aktif dalam merespons isu-isu kontemporer. Tantangan modern seperti digitalisasi, perubahan sosial, dan dinamika global menuntut pendekatan keilmuan yang lebih adaptif.
Konsolidasi Organisasi Menjelang Muktamar
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa persiapan Muktamar NU 2026 terus dilakukan melalui konsolidasi internal organisasi. Proses ini mencakup verifikasi administrasi peserta dan penguatan koordinasi antarstruktur NU di berbagai daerah.
PBNU juga melakukan silaturahim dengan para ulama sepuh sebagai bagian dari tradisi organisasi. Langkah ini dilakukan untuk meminta doa restu sekaligus memperkuat legitimasi moral menjelang pelaksanaan muktamar.
Persiapan ini menunjukkan bahwa muktamar tidak hanya dipandang sebagai agenda formal, tetapi juga sebagai momentum spiritual dan kultural bagi seluruh warga NU.
Dinamika Organisasi dan Harapan ke Depan
Muktamar NU 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu muktamar yang paling menentukan dalam sejarah modern NU. Forum ini tidak hanya akan menghasilkan keputusan struktural, tetapi juga menentukan arah ideologis organisasi dalam jangka panjang.
Gus Lilur berharap agar muktamar kali ini menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Ia menekankan bahwa NU harus tetap menjadi organisasi yang berakar kuat pada nilai keilmuan, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan konsolidasi yang kuat, kepemimpinan yang berintegritas, serta penguatan ekosistem intelektual, NU diharapkan dapat terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas sosial dan keagamaan di Indonesia.
baca juga: Sahroni Soroti Kasus Pelecehan FHUI, Bahaya bagi Dunia Hukum